Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Juni 2013
Anak Lelaki Bernama 'Luke'
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu meyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yang dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Selasa, 04 Juni 2013
Kisah Ratu Victoria
Tuhan masih bekerja, dan Ia bekerja dengan berbagai cara, besar ataupun kecil. Billy Graham pernah menulis sebuah cerita, "Kereta ekspres Inggris membelah malam, lampu besarnya yang terang menyinari malam. Ratu Victoria menjadi penumpang kereta itu. Tiba-tiba teknisi melihat sesuatu yang mengejutkan. Di tengah cahaya lampu kereta tampak sosok asing yang mengenakan jubah hitam sedang berdiri di tengah rel dan melambaikan tangannya.
Teknisi menyambar rem dan menghentikan kereta api itu dengan mendadak. Ia dan rekan-rekannya turun dari kereta untuk melihat apa yang telah menghentikan mereka. Namun, mereka tidak dapat menemukan jejak sosok asing tadi. Mengikuti perasaannya, teknisi itu lalu berjalan beberapa meter menyusuri rel. Tiba-tiba ia berhenti dan menatap kabut dengan ngeri. Sebuah jembatan yang akan mereka lewati tiba-tiba rubuh di hadapan mereka. Jembatan itu tercebur ke dalam sungai yang deras.
Seandainya teknisi tadi tidak memperhatikan sosok seperti hantu itu, kereta apinya akan tercebur ke dalam sungai. Setelah jembatan dan rel itu diperbaiki, para pekerja melakukan pencarian lebih seksama terhadap orang asing pengibar bendera tersebut. Akan tetapi, setelah sampai di London barulah mereka memecahkan misteri tersebut. Di dasar lampu besar kereta, teknisi menemukan seekor ngengat besar yang sudah mati. Ia memeriksanya sejenak, kemudian mengikuti dorongan hatinya. Ia membasahi sayapnya dan menempelkannya di kaca lampu. Ia naik kembali kereta, menyalakan lampu dan melihat si "Pengibar bendera" di tengah cahayanya, seperti yang dilihatnya beberapa detik sebelum kereta sampai di jembatan yang hanyut.
Dalam kabut ia tampak seperti sosok hantu yang melambai-lambaikan lengannya. Ketika Ratu Victoria diberi tahu tentang kejadian aneh tersebut, ia mengatakan, "Saya yakin itu bukan suatu kebetulan. Itu adalah cara Tuhan melindungi kita." Tidak, sosok yang dilihat oleh teknisi di cahaya lampu itu memang bukanlah sosok malaikat... namun demikian, Allah sangat mungkin melalui pelayanan malaikat-malaikatNya yang tidak nampak, telah meletakkan ngengat itu di kaca lampu tepat di saat dan di tempat yang diperlukan.
Kamis, 02 Mei 2013
Benar-Benar Kaya
Alkisah di sebuah kota kecil, ada seorang kaya yang sangat sombong. Suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan, seorang pengemis tanpa sengaja menabraknya. Merasa kesal dengan kecerobohan si pengemis, ia menjadi marah. Dengan emosi ia berkata, "Dasar pengemis bodoh, berani-beraninya kamu menabrak saya. Kamu tidak tahu siapa saya?"
Dengan ketakutan, pengemis itu berkata, "Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja, tapi... sebenarnya Tuan ini siapa?" Orang kaya itu pun menjawa dengan sombongnya, "Saya orang yang paling kaya di kota ini!" Mendengar hal itu, dengan polos pengemis itu berkata, "Maaf, Tuan. Tapi setahu saya, orang yang paling kaya di kota ini adalah tukang kayu yang tinggal di ujung jalan. Ia sering kali mengundang para pengemis seperti saya ini untuk makan di rumahnya." Mendengar perkataan pengemis itu, orang kaya tertunduk malu. Ia juga tahu sepak terjang si tukang kayu yang sebenarnya hidup dalam kekurangan, namun selalu berbagi.
Dunia memuja materi. Itulah sebabnya banyak orang terjebak dalam sebuah pemahaman yang keliru. Kaya miskin semata-mata diukur atas dasar materi, padahal kelimpahan materi tidak otomatis membuat seseorang menjadi kaya. Sama seperti kekurangan materi sebenarnya tidak lantas membuat seseorang menjadi miskin.
Ketahuilah, kekayaan tidak berbicara tentang berapa banyak yang seseorang miliki, melainkan tentang berapa banyak yang ia bagikan. Ketika seseorang mau berbagi dengan sesamanya sekalipun tidak memiliki materi yang berlimpah. Sesungguhnya, ia adalah seorang yang kaya. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah berbagi dengan sesamanya sekalipun memiliki materi yang berlimpah, ia adalah seorang yang miskin.
Apapun keadaan anda saat ini, milikilah pemahaman yang benar tentang "kaya" dalam arti yang sesungguhnya. Untuk menjadi kaya, anda tidak perlu menunggu sampai mengalami kelimpahan materi. Ketika anda rela membagikan apa yang anda miliki untuk memberkati sesama sekalipun sedikit, sesungguhnya anda sudah kaya. Untuk anda yang berlimpah materi, belajarlah berbagi. Ketika anda berbagi, sesungguhnya anda sempurna di hadapan Allah.
Bukan seberapa banyak yang kita dapatkan, tapi seberapa banyak yang kita bagikan.
Selasa, 30 April 2013
Kasih Terbesar
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan yang terletak di perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, sedangkan beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun. Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat. Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis, mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.
Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan yang cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritisnya. Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan, termasuk anak-anak untuk menemukan golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu. Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil itu.
Sang dokter yang tidak begitu lancar berbahasa Vietnam berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah. Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa.
Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.
“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah.
“Siapa namamu?”
“Heng,” jawab anak itu.
Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali. Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.
“Apakah engkau kesakitan, Heng?” tanya dokter itu.
Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, tetapi Heng menggelengkan kepalanya lagi. Tangisan Heng pun tidak juga berhenti dan malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis. Tim medis menjadi khawatir dan mengkhawatirkan ada sesuatu yang tidak beres.
Untunglah seorang perawat asli Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan, ia kemudian berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan lalu perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur. Anak itu mulai berhenti menangis dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk, tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.
Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untuk memberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”
“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran. Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng dan anak lelaki itu menjawab dengan singkat, “Ia sahabat saya.”
(Seperti yang ditulis oleh Kolonel dr. John W. Mansur, - termuat dalam buku “The Missileer”, New York, 2004)
Labels:
Cerita Kehidupan
Minggu, 28 April 2013
Kearifan Emas.
Seorang
pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti
mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat
sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat
diperlukan? Bukan hanya untuk penampilan, melainkan juga untuk banyak
tujuan lain?"
Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar' yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas'."
"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."
Sang guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu. "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun sambil tetap tersenyum arif berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
Pemuda itu bergegas pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar' yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas'."
"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."
Labels:
Cerita Kehidupan
,
Renungan
Jumat, 26 April 2013
Salah Alamat
Jamey Rodemayer adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang berasal dari Buffalo, New York. Ia diketemukan tewas bunuh diri di rumahnya karena tidak tahan terus menerus dilecehkan oleh teman-temannya yang menganggap dia seorang gay. Sebenarnya niatan bunuh diri itu sudah ditulisnya di dalam blog pribadinya. Ia berharap dengan menuliskan curahan hatinya itu ia akan mendapatkan pertolongan atau setidaknya ada yang peduli padanya untuk mencegahnya melakukan tindakan bunuh diri itu.
Ada yang menulis, "Jamie bodoh, gay, gendut, dan jelek. Dia harus mati!" Ada pula yang menulis, "Aku tidak peduli kalau dia mati. Tak ada yang peduli. Jadi, lakukan saja." Tak ada yang mau mendengarkan dia.
Apa yang dilakukan Jamey adalah salah alamat. Ia justru datang kepada orang yang tidak tepat. Ia mengharapkan orang-orang akan menolongnya, tapi ia tidak datang kepada Tuhan. Ia mengandalkan orang lain untuk menolongnya dan bukan mengandalkan Tuhan.
Di dalam keputusasaan datanglah kepada Tuhan. Jangan biarkan justru iblis yang menguasai hati dan pikiran kita sehingga kita melakukan langkah keliru. Alamat pasti yang kita tuju adalah Tuhan. Bukan orang lain. Orang lain tak akan mampu memahami diri kita sedalam Tuhan memahami diri kita. Hari ini, biarlah kita diingatkan kembali untuk meminta pertolongan Tuhan sebagai langkah pertama. Memang Tuhan bisa memakai orang terdekat kita seperti sahabat, orang tua, guru untuk menolong kita, jika pada awalnya kita datang kepada Tuhan sebagai alamat pertama yang kita tuju. Ingat bahwa alamat yang kita tuju sangat menentukan seperti apa kita mendapatkan jawaban. Jika alamatnya saja sudah keliru, bisa dipastikan kita mendapatkan jawaban yang keliru juga.
Jika kita datang ke alamat yang tepat, maka kita akan mendapatkan jawaban yang tepat pula.
Labels:
Cerita Kehidupan
,
Renungan
Rabu, 24 November 2010
Pembeli Istimewa
Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang pengemis ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli kue manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu tampak jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru si pelayan membungkus manju itu. Tetapi sebelum ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko dan berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya!” Kemudian si pemilik toko menyerahkan kue itu sendiri pada si pengemis.
Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, pemilik toko membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda.”
Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli."
Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Saya ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa? Namun, pelanggan itu lain.”
“Mengapa lain?” tanya pelayan.
“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat penting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa saya melayaninya," demikian penjelasan sang pemilik toko.
***
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.
(Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food For Thought)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)