Pages

Tampilkan postingan dengan label Rahasia menjadi sempurna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahasia menjadi sempurna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Negara Tanpa Ayah







Data Anak-Anak Internasional PBB menyatakan bahwa sekitar 50% anak kulit putih yang lahir di Amerika Serikat akan menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya dalam keluarga dengan ibunya saja. Bagi anak kulit hitam, persentasenya bahkan sekitar 80%! Tidak heran kalau USA Today menyebut Amerika Serikat sebagai "negara nomor satu keluarga tanpa ayah sedunia"! Apakah akibat dari keluarga tanpa ayah ini? Survei Gallup di Amerika Serikat berpendapat bahwa 80% masalah sosial, kriminal, amoralitas, disebabkan karena "ketidakhadiran sosok ayah di rumah". Betapa besar pengaruh seorang ayah dalam keluarga!

Seorang anak memang tidak akan mengatakan secara langsung bahwa hidup mereka menjadi kacau berantakan karena tidak adanya ayah. Beberapa dari antara mereka bahkan merasa bisa bersikap independen dan mengatakan bahwa ayah tidaklah penting bagi mereka. Namun, jauh dari kedalaman hati mereka, mereka tetap saja membutuhkan kehadiran ayah. Ketidakhadiran sang ayah dari kehidupan mereka merupakan tragedi yang menghancurkan kehidupan mereka dan masa depan mereka. Selain masalah sosial, kriminalitas, maupun amoralitas, ketidakhadiran ayah juga membuat anak menjadi pesimis, memiliki sikap yang lemah, dan gampang menyerah kalah. Tak heran kalau ketidakhadiran ayah dalam kehidupan anak, membuat anak lebih sulit melihat masa depan.

Memang kita tidak tinggal di Amerika yang dijuluki "negara nomor satu keluarga tanpa ayah sedunia". Namun, toh jumlah anak yang dibesarkan tanpa ayah di Indonesia juga banyak, bahkan tiap tahun jumlahnya terus meningkat. Bukan tidak mungkin, apa yang terjadi di Amerika sana bisa saja terjadi di Indonesia. Melihat hal tersebut, kita harus benar-benar memperhatikan betapa sakralnya sebuah pernikahan. Perceraian tidak hanya sekandar mengandaskan sebuah pernikahan, tapi hal itu juga berarti bahwa anda juga sedang menciptakan anak-anak yang rapuh.



80% masalah sosial, kejahatan, amoral disebabkan karena ketidakhadiran ayah.


Selasa, 08 Oktober 2013

Blak-Blakan







"Daripada berhadapan dengan orang yang bermuka dua yang plin-plan, tidak tulus dan suka cari muka, lebih baik saya berhadapan dengan orang yang blak-blakan dan apa adanya." Kita sering mendengar ucapan seperti itu. Memang sikap jujur, terbuka, terus terang dan blak-blakan jauh lebih positif dibandingkan sikap bermuka dua. Namun kita juga perlu ingat bahwa seringkali niat kita untuk bersikap terbuka, terus terang dan blak-blakan itu justru menuai masalah, sakit hati, dan perselisihan. Blak-blakan itu boleh-boleh saja, namun alangkah baiknya jika itu disampaikan dengan penuh hikmat.

Seorang wanita sedang memilih-milih sepatu dan seorang pelayan toko berusaha membantu wanita tersebut memilihkan sepatu yang pas. Namun, setelah sekian lama masih sulit juga menemukan sepatu yang pas. Setelah mengetahui masalahnya, pelayan toko itu berkata dengan jujur dan terus terang, "Maaf Bu, saya tidak dapat menemukan sepatu yang cocok untuk anda karena kaki anda besar sebelah." Mendengar kata-kata tersebut, kontan saja wanita tersebut marah besar. Kebetulan sang manajer mengetahui hal tersebut dan ia segera turun tangan untuk melayani wanita tersebut.

Ajaibnya, wanita tersebut reda amarahnya, bahkan akhirnya melakukan penjualan. Si pelayan toko menjadi heran dan akhirnya bertanya kepada manajer, "Saya mengatakan hal yang sama dan wanita itu tersinggung." Manajer itu menjawab, "Tidak sama. Saya berkata kepadanya kalau sepatu yang dia pilih terlalu besar dan dia harus memilih sepatu yang model dan ukurannya spesial."

Manajer tersebut melakukan hal yang sama dengan pelayan toko itu, yaitu bersikap terus terang. Namun ketika dia menggunakan kalimat yang tepat, maka hasilnya bisa berbeda jauh. Kita bisa belajar bahwa bersikap terus terang dan blak-blakan itu sah-sah saja, tapi usahakan diri kita memilih kalimat atau kata-kata yang lembut. Praktikkan hal ini, maka kita tidak perlu kompromi dengan hal yang salah dan pada saat yang bersamaaan kita bisa menegur dan menasihati tanpa menimbulkan luka hati pada orang yang menerimanya. Seni berkomunikasi seperti ini sangat dibutuhkan dalam hubungan rumah tangga, keluarga, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Berterus terang atau blak-blakan tidak selalu berarti menimbulkan luka hati bagi orang yang mendengarnya.


Sabtu, 25 Mei 2013

Lifetime






Hampir kebanyakan barang elektronik memiliki usia hidup atau yang lebih dikenal dengan istilah lifetime. Misalnya, kamera yang sering kita gunakan ternyata memiliki lifetime tersendiri, rata-rata memiliki usia hidup 100.000 jepretan. Televisi LCD memiliki usia sekitar 30.000 jam. Lampu juga memiliki usia sekitar 5.000 jam. Itu sebabnya tidak ada barang elektronik yang memberi garansi seumur hidup karena memang segala sesuatu ada batas usianya.

Hal menarik lainnya yang perlu kita tahu adalah, cara kita menggunakan dan merawat barang-barang elektronik tersebut juga sangat menentukan apakah perangkat elektronik tersebut sudah rusak sebelum waktunya, atau bisa berumur lebih panjang dari seharusnya.

Manusia juga punya usia hidup atau lifetime. Harapan hidup manusia masa kini sekitar 60-70 tahun, bahkan tak jarang kita menemui orang-orang yang meninggal sebelum waktu tersebut. Mengapa demikian? Bisa saja disebabkan karena kita memperlakukan tubuh kita secara asal-asalan, sembrono, sembarangan dan tidak memeliharanya dengan baik. Namun di luar itu, bisa juga karena memang Tuhan yang punya kehendak berbeda.

Nah, jika ingin perangkat elektronik kita berumur panjang, maka kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Demikian juga kalau kita ingin umur kita panjang, maka kita harus menghargai kehidupan yang telah Tuhan percayakan ini dan memeliharanya dengan sungguh-sungguh. Mulai dari hal-hal kecil seperti berikut ini: berapa kali dalam seminggu kita berolahraga, apakah kita menjaga pola makan dan kebiasaan hidup yang sehat, apakah kita menjaga agar pikiran tidak stres sehingga akhirnya mengganggu kesehatan kita?




Cara kita memelihara tubuh kita menunjukkan apakah kita menghargai hidup sebagai anugerah dari Tuhan.


Rabu, 15 Mei 2013

Jujur = Hancur




Seorang raja hendak mewariskan kerajaannya kepada salah satu di antara lima anaknya. Untuk menentukan siapa yang paling tepat menggantikannya, raja tersebut membuat sayembara. Kelima pangeran diberi sebatang pohon yang harus dipanggul dari istana ke sebuah desa. Barangsiapa yang berhasil tiba lebih dulu di desa itu, maka dialah yang akan menjadi raja. Mereka semua bersemangat memanggul balok pohon yang berat itu. Satu jam kemudian mereka merasa kepayahan dan salah seorang dari antara mereka mulai curang. Ia memotong batang kayu tersebut sehingga menjadi pendek dan lebih ringan. Melihat kecurangan itu, yang lain juga tak mau kalah sehingga mereka ikut-ikutan curang. Hanya si bungsu yang ngotot dengan pendiriannya untuk tak bersikap curang. Akibatnya bisa ditebak, si bungsu terseok-seok dan tertinggal jauh.

Sampailah si bungsu di jurang yang memisahkan kerajaan dan desa tersebut. Ia melihat semua saudaranya termangu-mangu di bibir jurang karena batang kayunya tidak cukup panjang untuk menjadi jembatan akibat sudah mereka potong sebelumnya. Tidak ada jembatan untuk bisa menyeberang ke desa tersebut kecuali menggunakan batang kayu utuh yang memang sudah diukur raja agar bisa menjadi jembatan. Kejujuran akhirnya menang dan kecurangan berakhir dengan kekalahan.

Dalam bahasa Jawa, ada ungkapan bernada satir, jujur berarti ajur (ajur = hancur). Demikian juga dalam bahasa Jawa ada ungkapan yang berkata, "Zaman edan yen ora ngedan ora keduman." Artinya, di zaman yang bobrok dan penuh kecurangan ini banyak orang ikut menghalalkan segala cara. Namun, firman Tuhan mengingatkan agar kita hidup di dalam kejujuran, kesetiaan, dan memiliki integritas. Sekalipun banyak orang hidup dalam kecurangan, jangan pernah kita menjadi larut dengan dunia dan ikut-ikutan melakukannya. Yakinlah bahwa kebenaran dan kejujuran tak akan pernah kalah oleh kecurangan. Setiap tindakan kejujuran yang kita hari ini pasti akan kita tuai suatu hari nanti. Demikian juga kecurangan yang kita lakukan hari ini pasti akan memunculkan akibat di kelak kemudian hari.


Jujur bukan berarti ajur. Jujur justru mujur!


Kamis, 02 Mei 2013

Benar-Benar Kaya





Alkisah di sebuah kota kecil, ada seorang kaya yang sangat sombong. Suatu hari ketika ia sedang berjalan-jalan, seorang pengemis tanpa sengaja menabraknya. Merasa kesal dengan kecerobohan si pengemis, ia menjadi marah. Dengan emosi ia berkata, "Dasar pengemis bodoh, berani-beraninya kamu menabrak saya. Kamu tidak tahu siapa saya?"

Dengan ketakutan, pengemis itu berkata, "Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja, tapi... sebenarnya Tuan ini siapa?" Orang kaya itu pun menjawa dengan sombongnya, "Saya orang yang paling kaya di kota ini!" Mendengar hal itu, dengan polos pengemis itu berkata, "Maaf, Tuan. Tapi setahu saya, orang yang paling kaya di kota ini adalah tukang kayu yang tinggal di ujung jalan. Ia sering kali mengundang para pengemis seperti saya ini untuk makan di rumahnya." Mendengar perkataan pengemis itu, orang kaya tertunduk malu. Ia juga tahu sepak terjang si tukang kayu yang sebenarnya hidup dalam kekurangan, namun selalu berbagi.

Dunia memuja materi. Itulah sebabnya banyak orang terjebak dalam sebuah pemahaman yang keliru. Kaya miskin semata-mata diukur atas dasar materi, padahal kelimpahan materi tidak otomatis membuat seseorang menjadi kaya. Sama seperti kekurangan materi sebenarnya tidak lantas membuat seseorang menjadi miskin.

Ketahuilah, kekayaan tidak berbicara tentang berapa banyak yang seseorang miliki, melainkan tentang berapa banyak yang ia bagikan. Ketika seseorang mau berbagi dengan sesamanya sekalipun tidak memiliki materi yang berlimpah. Sesungguhnya, ia adalah seorang yang kaya. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah berbagi dengan sesamanya sekalipun memiliki materi yang berlimpah, ia adalah seorang yang miskin.

Apapun keadaan anda saat ini, milikilah pemahaman yang benar tentang "kaya" dalam arti yang sesungguhnya. Untuk menjadi kaya, anda tidak perlu menunggu sampai mengalami kelimpahan materi. Ketika anda rela membagikan apa yang anda miliki untuk memberkati sesama sekalipun sedikit, sesungguhnya anda sudah kaya. Untuk anda yang berlimpah materi, belajarlah berbagi. Ketika anda berbagi, sesungguhnya anda sempurna di hadapan Allah.



Bukan seberapa banyak yang kita dapatkan, tapi seberapa banyak yang kita bagikan.


Rabu, 01 Mei 2013

Selalu Bersyukur






Tidak semua orang mampu mensyukuri apa yang mereka miliki. Betapa sering kita bersungut-sungut dan mempersalahkan Tuhan ketika doa-doa kita belum dikabulkan atau ketika kita tidak menerima sesuai yang kita minta. Bagaimanapun keadaannya, Tuhan mengingatkan kita untuk mengucap syukur senantiasa di dalam segala perkara, karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Mengucap syukur dalam segala perkara berarti tidak hanya mengucap syukur dalam situasi-situasi yang menyenangkan saja, melainkan dalam setiap situasi, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.

Mengapa? Seperti yang Tuhan janjikan bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita dan Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami situasi-situasi yang sangat tidak memungkinkan untuk mengucap syukur, tetapi sebenarnya kita akan selalu menemukan alasan untuk tetap mengucap syukur kepada Allah.

Saya pernah membaca kalimat, “Jika engkau tidak memiliki apa yang engkau inginkan, mengucap syukurlah untuk sesuatu yang tidak engkau inginkan namun engkau memilikinya.” Lihatlah betapa banyak pemberian di dalam hidup kita yang mungkin tidak pernah kita minta atau bahkan tidak kita inginkan, tetapi Tuhan mengaruniakannya. Kalau kita selalu membandingkan diri dengan orang lain, maka kita tidak akan sanggup bersyukur bahkan untuk perkara-perkara besar sekalipun.

Orang-orang yang menyadari bahwa mereka telah menerima banyak yang baik dari Tuhan dan meyakini bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah sekalipun sekeliling mereka berubah, merekalah yang dapat senantiasa mengucap syukur. Daripada bersungut-sungut dan menyesali diri, lebih baik bersyukur karena ada kekuatan di dalam pengucapan syukur.

Pernahkah kita merasakan bahwa semakin kita mengucap syukur, semakin kita merasa lega dan semakin kita bersungut-sungut semakin terasa berat beban kita? Hari ini bagaimanapun keadaan anda, kuatkanlah hati anda untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya dengan segenap hati.

Kita mengucap syukur bukan agar hati Tuhan senang, lalu Ia memberkati dan memberikan jalan keluar bagi kita, tetapi karena sudah sepatutnya kita mengucap syukur kepada-Nya karena Ia setia dan baik. Untuk membawa kita pada rencana agung-Nya, mungkin saja Allah memakai cara-cara yang tidak kita inginkan.

Ketika kita menilai itu dari sudut pandang kita yang penuh keterbatasan, kita akan bersungut-sungut dan tidak bersyukur. Tetapi, cobalah memandang segala sesuatunya dari sudut pandang Allah, maka kita akan dimampukan untuk mengucap syukur dalam segala perkara.



Ucapan syukur memampukan kita bertahan menghadapi suatu keadaan.


Senin, 29 April 2013

Blind Spot Area





Semua atlet profesional memiliki pelatih. Bahkan, pegolf sehebat Tiger Woods sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding, jelas Tiger Woods yang akan memenangkan pertandingan tersebut. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Tiger Woods butuh pelatih kalau jelas-jelas dia lebih hebat dari pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Tiger Woods butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dia lihat sendiri.

Hal-hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan blind spot atau titik buta. Kita hanya bisa melihat blind spot tersebut dengan bantuan orang lain. Saat selesai makan, kadangkala masih ada saja sisa makanan yang menyangkut di gigi kita. Entah itu kulit cabai atau sayuran yang lain. Itulah blind spot yang tidak bisa kita lihat sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita tentang 'kecelakaan penampilan' seperti itu.

Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita. Kita butuh orang lain untuk melihat apa yang tidak dapat kita lihat. Kita selalu membutuhkan seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser. Kita butuh orang lain untuk menasihati, mengingatkan, bahkan menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, yang bahkan kita tidak pernah menyadarinya.

Kerendahan hati kita untuk menerima kritikan, nasihat dan teguran itulah yang justru menyelamatkan kita. Kita bukanlah manusia sempurna. Biarkanlah orang lain menjadi "mata" kita di area blind spot kita sehingga kita bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dengan pandangan diri kita sendiri.





Kita butuh orang lain untuk membantu kita melihat apa yang selama ini kita tidak bisa lihat.



(taken from rh spirit, oktober, 2011)

Sabtu, 27 April 2013

Seorang yang Bijaksana







Pada suatu hari ada seorang pemimpin paduan suara yang hendak memimpin paduan suaranya untuk menyanyikan lagu-lagu yang telah disiapkan di depan para hadirin yang memenuhi gedung konser. Jumlah anggota paduan suaranya kurang lebih 15 orang saja. Ketika mereka mulai menyanyi, sang pemimpin mulai merasakan suasana yang tidak enak. Ternyata ada yang fals. Karena fals, sang pemimpin paduan suara mulai diam dan mengamati. Namun, tidak ada lagi suara fals itu.

Kemudian, sang pemimpin bernyanyi lagi bersama-sama anggotanya, suara fals itu terdengar kencang. Sang pemimpin berhenti dan mengamati siapa biangnya? Namun, tidak lama kemudian ketahuan. Biangnya adalah sang pemimpin itu sendiri. Suara fals itu terdengar lantang karena sang pemimpin bernyanyi menggunakan pengeras suara. Ternyata, ketika sang pemimpin paduan suara berusaha mencari sumber masalah, dia sendirilah sumbernya.

Perumpamaan di atas mengingatkan kita untuk tidak menganggap diri sendiri selalu benar dan kemudian menyalahkan orang lain. Orang yang menganggap diri sendiri selalu benar pada akhirnya tidak mau belajar untuk berubah, padahal perubahan itu mutlak. Kalau seseorang tidak berubah, pada waktunya ia akan digilas oleh zaman dan tidak akan pernah menjadi pribadi yang lebih baik.

Seseorang yang menganggap dirinya bijak pastilah merasa tidak pernah salah. Kata 'sempurna' mungkin akan selalu dilekatkan pada dirinya, namun pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Hanya satu pribadilah yang sempurna di dunia ini, yaitu Tuhan sendiri. Bijaksana memang harus dikejar. Namun, menganggap diri sendiri bijak sangatlah berbahaya. Ketika kita berpikir kita bijaksana, sesungguhnya itu adalah suatu kesombongan.

Sebelum kita melihat orang lain, kita perlu melihat diri sendiri dulu setiap saat. Belajar dari kesalahan juga mutlak dibutuhkan. Jangan menuduh orang lain terlebih dahulu sebelum berintrospeksi dan memeriksa diri sendiri. Jangan-jangan kita ini yang justru menjadi sumber masalahnya. Jangan sampai kita yang jadi malu sendiri nantinya.




Jangan menganggap diri bijak. Itulah bijak!


Jumat, 28 September 2012

3 Hal Dalam Hidup





3 hal dalam hidup yang tak pernah kembali:
1. Waktu
2. Perkataan
3. Kesempatan

Kita tak bisa memutar kembali waktu, tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya dan memanfaatkan waktu yang ada, walau sebentar, untuk menciptakan kenangan yang berarti.


Time is free but it's priceless, you can't own it but you can use it. You can't keep it but you can spend it.


Kita tak bisa menarik ucapan kasar yang keluar dari mulut kita atau statement yang telah membuat harga diri kita lebih penting daripada menariknya kembali dan mengucapkan maaf. Kita tak bisa menghapus caci maki yang telah kita katakan hingga membuat orang lain marah, terluka atau menangis.

Tapi kita bisa membuat apa yang selanjutnya keluar dari mulut kita menjadi lebih banyak pujian dibanding caci maki, lebih banyak syukur dan terima kasih dari pada keluhan, dan lebih banyak nasihat positif dari pada sulutan amarah.

Kita tak bisa mendapatkan kembali kesempatan yang sudah kita lewatkan. Tapi kita bisa menciptakan peluang untuk membuat kesempatan-kesempatan lain datang dalam hidup kita dengan lebih memperhatikannya.


3 hal dalam hidup yang tak boleh hilang:
1. Kehormatan
2. Kejujuran
3. Harapan

Jika kita tidak memiliki uang, dan masih memiliki kehormatan, maka bersyukurlah karena kehormatan merupakan salah satu kekayaan yang masih berharga di mata orang lain.

Jika kita telah kehilangan kehormatan dan ingin memulihkannya, maka pergunakanlah kejujuran untuk meraih kehormatan kita kembali karena orang-orang yang jujur adalah orang-orang yang terhormat.

Jika kita telah kehilangan kehormatan karena ketidakjujuran kita, milikilah harapan bahwa suatu saat mereka akan mengerti alasan di balik semuanya. Milikilah harapan bahwa kita bisa memperbaiki kehormatan meski dengan susah payah. Milikilah harapan bahwa meski banyak orang yang takkan lagi percaya karena kita pernah melakukan hal-hal yang tidak jujur. Pada waktunya nanti, mereka akan melihat sendiri upaya kita.

Teruslah bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah berjaga hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Karena di mana ada kemauan, di situ ada jalan.


3 hal dalam hidup yang paling berharga:
1. Keluarga
2. Sahabat
3. Cinta

Kekayaan bukan soal berapa banyak uang yang anda miliki.
Kekayaan adalah apa yang masih anda miliki saat anda kehilangan semua uang anda.

Jika anda kehilangan semua uang anda, ingatlah bahwa anda masih memiliki keluarga.

Jika anda kehilangan semua keluarga anda, ingatlah bahwa anda masih memiliki sahabat.

What is the difference between blood and friend?
>>Blood enters the heart and flows out, but friend enters the heart and stay inside.

Jika anda kehilangan semua keluarga anda dan tak ada satu pun sahabat, maka ingatlah bahwa anda masih memiliki cinta untuk mendapatkan mereka kembali, untuk mengenang masa-masa indah bersama mereka dan untuk menciptakan persahabatan yang baru dengan kehangatan kasih yang mampu anda berikan^^

If love hurts, then love some more.
If love hurts some more, then love even more.
If love hurts even more, then love till its hurt no more

Setiap Langkah Adalah Anugerah





Seorang Profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.

Setiap kali, ia kembali ke sisi Sang Profesor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?" tanya Sang Profesor.

"Melakukan apa?" tanya Ralph.

"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" desak Sang Profesor.

"Oh," kata Ralph, "...saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah." katanya.
"Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya."

"Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain."

Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT.
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...